Vol. 1 No. 2 (2015)
Total Articles: 8 | Total Pages: 86
Issue Coverage: 8 Author(s) from 1 Country(s)
Indonesia (8)
Articles
-
Upaya Meningkatkan Kemampuan Fisik Motorik Kasar Anak Melalui Kegiatan Melambungkan dan Menangkap dengan Berbagai Media Anak Usia Dini di TK Al- Fajar Pekanbaru
Melvi Lesmana Alim (Author)Show Abstract | Download PDF | DOI: 10.31004/obsesi.v1i2.64 | Check in Google Scholar
Berdasarkan hasil observasi peneliti dikelompok B TK Al-Fajar Pekanbaru ditemukan bahwa masih banyak anak yang belum mampu melakukan kegiatan melambungkan dan menangkap dengan berbagai media. Peneliti melihat kemampuan anak ternyata yang sudah mampu melambungkan dan menangkap bola hanya 3 anak (25%) yang belum mampu 9 anak (75%) hal ini terjadi karena guru kurang maksimal memberikan contoh kepada anak. Subyek penelitian adalah TK Al-Fajar Pekanbaru khususnya kelompok B yang berjumlah 12 orang anak, terdiri dari 6 anak perempuan dan 6 anak laki-laki, dengan usia anak 5-6 tahun. Waktu pelaksanaan direalisasikan selama 10 hari. Dalam kegiatan pertama masih banyak anak yang perlu bimbingan yaitu 10 anak (83,3%) sedangkan anak yang sudah bisa melakukan kegiatan ada 2 anak (19,7 %). dipertemuan kedua anak yang sudah bisa melakukan 4 anak (33%), dan 8 anak (87%) masih perlu bimbingan. Dipertemuan ketiga anak yang bisa bertambah menjadi 5 anak (42%), anak yang masih memerlukan bimbingan 7 anak (58,3%) . Pada pertemuan keempat, anak yang sudah bisa 8 anak (67%), yang masih perlu bimbingan 4 anak (33%). Pada pertemuan kelima anak yang sudah bisa bertambah 2 anak (16,7%) anak yang sudah baik menjadi 10 anak (83,3%) dan yang masih perlu bimbingan menjadi 2 anak (16,7%). Pertemuan pertama pada siklus kedua anak melakukan kegiatan Melambungkan dan menangkap bola besar berhadapan, pada kegiatan ini anak yang sudah bisa melakukan 4 anak (33%), yang masih perlu bimbingan 8 anak (67%). Pada pertemuan kedua anak yang sudah bisa melakukan bertambah 2 anak sehingga jumlah anak yang sudah bisa menjadi 6 anak (50%), dan yang memerlukan bimbingan 6 anak (60%). Pada pertemuan ketiga anak yang bisa melakukan bertambah 1 sehingga jumlah anak yang bisa melakukan menjadi 7 anak (58,3%), dan yang masih perlu bimbingan 5 anak (42%). Pada pertemuan keempat anak yang bisa melakukan bertambah 3 anak jadi jumlah anak yang sudah sesuai harapan guru menjadi 9 anak (75%), dan yang masih perlu bimbingan 3 anak (25%). Pada pertemuan kelima anak melakukan kegiatan melambungkan dan menangkap bola sambil lari, pada kegiatan ini anak –anak sudah bisa melakukan kegiatan semua, dan anak yang memerlukan bimbingan sudah tidak ada lagi
83-93 -
Peningkatan Kemampuan Klasifikasi Melalui Media Benda Konkret pada Anak Kelompok A1 di TK Cahaya Kembar Bangkinang Kampar
Mohammad Fauziddin (Author)Show Abstract | Download PDF | DOI: 10.31004/obsesi.v1i2.65 | Check in Google Scholar
Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan klasifikasi melalui media benda konkret pada anak kelompok A1 di TK Cahaya Kembar Bangkinang Kabupaten Kampar. Kemampuan klasifikasi pada penelitian ini difokuskan pada kemampuan klasifikasi 1-2 atribut. Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (Classroom Action Research) yang dilakukan secara kolaborasi. Subjek penelitian ini adalah anak kelompok A1 yang berjumlah 19 anak yang terdiri dari sebelas perempuan dan delapan laki-laki. Objek dalam penelitian ini adalah kemampuan klasifikasi melalui media benda konkret. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi dan dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dan kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan klasifikasi pada anak kelompok A1 meningkat melalui media benda konkret. Benda konkret yang digunakan dalam penelitian ini adalah benda asli yang bukan makhluk hidup. Dengan benda konkret tersebut kemampuan klasifikasi anak dapat meningkat. Data peningkatan ini diperoleh dari lembar observasi (satu atribut & dua atribut) dan dokumentasi (LKA satu atribut dan dua atribut). Hal ini dapat diketahui dari adanya peningkatan kemampuan klasifikasi anak dari pratindakan, siklus I, dan siklus II. Berikut uraian hasil peningkatan kemampuan klasifikasi pada anak kelompok A1, yaitu dengan lembar observasi satu atribut  dari 52% meningkat pada siklus I menjadi 89%, sedangkan lembar observasi dua atribut dari 50% meningkat pada siklus II menjadi 87%. Pada aktivitas hasil, persentase rata-rata kemampuan anak  LKA satu atribut, yaitu dari 48% meningkat pada siklus I menjadi 83%, sedangkan LKA dua atribut menunjukkan peningkatan dari 45% pada siklus II menjadi 83% telah memenuhi target indikator keberhasilan, yaitu ≥ 80%. Hasil penelitian tersebut membuktikan bahwa benda konkret memiliki pengaruh besar dalam pembelajaran klasifikasi pada anak kelompok A1 di TK Cahaya Kembar Bangkinang Kabupaten Kampar
94-107 -
Upaya Meningkatkan Pemahamann Konsep Mengelompokan Benda Menurut Bentuk Jenis Ukuran dan Warna Melalui Penerapan Strategi Bermain dalam Pengembangan Koginitif Siswa Kelompok A TK Melati Indah
Joni Joni (Author)Show Abstract | Download PDF | DOI: 10.31004/obsesi.v1i2.66 | Check in Google Scholar
Berdasarkan observasi di TK Melati Indah Pekanbaru, anak kelompok A yang berjumlah 12 orang, diperoleh hasil belajar dalam pembelajaran mengelompokan benda dengan berbagai cara ternyata yang berhasil mengelompokan benda dengan berbagai cara hanya 3 orang anak (25%) dan yang belum mampu 9 orang anak (75%), hal ini terjadi karena strategi pembalajaran yang diberikan guru kurang bervariasi dan kurang menarik minat anak. Berdasarkan hal tersebut maka perlu diatasi dengan melakukan penelitian tindakan kelas. Lokasi penelitiian tindakan kelas ini dilaksanakan di TK Melati Indah Pekanbaru, subjek yang diteliti adalah siswa TK kelompok A dengan jumlah 12 orang, 7 orang laki-laki, dan 5 orang perempuan, dengan karakteristik kemampuan yang heterogen. Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa ketuntasan belajar anak dalam kegiatan mengelompokan benda menurut bentuk, jenis, warna dan ukuran mengalami peningkatan yaitu pada prasiklus yang mencapai batas ketuntasan 0% dari 12 anak, pada siklus I naik menjadi (8,3%) 1 anak, siklus II naik menjadi (7%) 9 anak yang mencapai batas ketuntasan. Jadi secara keseluruhan penerapan strategi melalui bermain dapat meningkatkan kemampuan anak dalam mengelompokan benda menurut bentuk, jenis warna dan ukuran dalam pengembangan kognitif anak kelompok A di TK N Melati Indah Pekanbaru
108-118 -
Marah Bentuk Kasih Sayang pada Anak
Mahdalena Mahdalena (Author)Show Abstract | Download PDF | DOI: 10.31004/obsesi.v1i2.67 | Check in Google Scholar
Semua orang tua sayang dengan anaknya, namun dalam keseharian anak sering berperilaku yang menjengkelkan, sehingga membuat orang tuanya marah. Acap kali orang tua tidak dapat mengendalikan emosi hingga memukul atau melakukan kekerasan fisik pada anak.  Kadang kala orang tua menegur anak bukan ingin meluruskan kesalahan, tetapi justru meluapkan amarah. Sebagai orang tua perlu belajar secara terus-menerus untuk meredakan emosi saat menghadapi anak. Jika tidak, teguran seseorang akan tidak efektif. Bahkan, justru semakin menunjukkan "kenakalannya". Ancaman yang diberikan  tidak menghentikan kenakalan anak, justru membuat anak berontak dan menentang. Anak merasa orang tua tidak menyayanginya lagi. Selain itu, seseorang sering lupa menunjukkan apa yang seharusnya dikerjakan anak manakala seseorang asyik melontarkan ancaman. Orang tua marah kepada anak merupakan teguran sehingga anak berperilaku yang baik. Perlu seseorang lakukan duduk bersama-sama anak dalam suasana yang mesra untuk berbicara tentang berperilaku yang baik, dan membangun komunikasi antara orang tua dan anak terutama pada anak usia dini.
119-129 -
Dasar Pengembangan Kurikulum Menjadi Pengalaman Belajar
Famahato Lase (Author)Show Abstract | Download PDF | DOI: 10.31004/obsesi.v1i2.68 | Check in Google Scholar
The curriculum was developed based on a clear objective, which is to steer students to become desired people. There are things that must be considered in designing the curriculum, namely what is the objectives of the lesson to be achieved, what material can be used to achive the goal, how the material should be arranged to achive the goal, and how it can be evaluated to see the success of the goal. So, the students can aquire knowledge, skills, and functional values in the future. This is the meaning of curriculum development as learning experince130-140 -
Nilai-Nilai Edukatif dalam Lirik Nyanyian Onang-Onang Pada Acara Pernikahan Suku Batak Angkola Di Kabupaten Tapanuli Selatan
Ismail Rahmad Daulay (Author)Show Abstract | Download PDF | DOI: 10.31004/obsesi.v1i2.69 | Check in Google Scholar
Folklor merupakan suatu budaya yang telah melekat pada suatu kelompok masyarakat. Folklor menjadi bagian dari kekayaan dan aset yang perlu di dokumentasikan dan dilestarikan. Suatu masyarakat dapat dikenali jati dirinya dengan mengenal dan mengetahui folklor yang mereka miliki. Salah satu folklor yang terdapat di Indonesia yaitu Nyanyian Onang-onang pada acara pernikahan suku Batak Angkola. Folklor ini merupakan milik atau kekayaan yang terdapat di Kabupaten Tapanuli Selatan Provinsi Sumatera Utara. Agar folklor ini dapat terjaga kelestariannya, diperlukan pendokumentasian. Salah satu usaha pendokumentasian itu adalah dengan dilaksanakannya penelitian ini. Selain itu, penelitian ini lebih khusus bertujuan untuk mendeskripsikan nilai-nilai edukatif religius, ketangguhan, kepedulian, dan kejujuran.Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Objek penelitian ini adalah Nyanyian Onang-onang suku Batak Angkola. Pengumpulan data dilakukan dengan cara perekaman dan pencatatan. Data penelitian ini adalah lirik Nyanyian Onang-onang pada acara pernikahan Suku Batak Angkola di Kabupaten Tapanuli Selatan Provinsi Sumatera Utara. Setelah data diperoleh sesuai dengan metode penelitian, dilanjutkan dengan mendeskripsikan dan memaknai hasil penelitian.Berdasarkan hasil analisis data, dapat diperoleh hasil penelitian berupa nilai-nilai edukatif dalam Nyanyian Onang-onang sebagai berikut : (1) nilai-nilai edukatif religius dengan indikator peercaya kepada Tuhan yang Maha Esa, patuh pada perintah Tuhan yang Maha Esa, menjauhi larangan Tuhan, dan bersyukur, (2) nilai-nilai edukatif ketangguhan degan indikator disiplin, dan ulet, (3) nilai-nilai edukatif kepedulian dengan indikator kasih sayang dan (4) nilai-nilai edukatif kejujuran dengan indikator bertanggung jawab dan demoikratis. Kempat nilai edukatif ini dapat dimplikasikan dalam pendidikan formal, khususnya dalam pembelajaran muatan lokal.
141-152 -
Pengetahuan Siswa Kelas X dan XI Tentang Narkoba di SMKN 1 Bangkinang Tahun 2015
Syahrial Syahrial (Author)Show Abstract | Download PDF | DOI: 10.31004/obsesi.v1i2.70 | Check in Google Scholar
Laporan dari World Drug Report menyatakan bahwa pada saat ini terdapat sekitar 208 juta orang atau sekitar 5% dari pada penduduk dunia, yang menggunakan narkotika dan zat adiktif lain. Penguna narkoba berusia 15 hingga 64 tahun dan diperkirakan pada tahun 2025 meningkat menjadi 15% dari penduduk dunia. Narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman baik sintetis maupun semi sintetis yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri, dan dapat menimbulkan adiksi atau ketergantungan Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengetahuan siswa kelas x dan xi tentang narkoba di smkn 1 bangkinang tahun 2015. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif, pengambilan sampel yang digunakan adalah simple random sampling sebanyak 87 orang, menggunakan kuesioner kemudian diolah secara manual. Analisa yang digunakan adalah univariat. Hasil penelitian didapatkan bahwa pengetahuan siswa kelas X dan XI tentang narkoba di smkn 1 bangkinang tahun 2015 adalah kurang yaitu sebanyak 55 orang (63,2%) yang disebabkan oleh faktor usia, tempat tinggal di kontrakan dan uang saku. Diharapkan bagi siswa perlu lebih selektif dalam memilih teman bergaul dan dan perilaku yang ditiru dari teman tersebut, baik di lingkungan sekolah, keluarga maupun teman sebaya.
153-160 -
Pengelolaan Pembelajaran melalui Bermain Pasir Dan Air Pada Sentra Bahan Alam di PAUD Insan Kamil Bangkinang Kampar
Yusnira Yusnira (Author)Show Abstract | Download PDF | DOI: 10.31004/obsesi.v1i2.71 | Check in Google Scholar
Pengelolaan pembelajaran melalui bermain pasir dan air berdasarkan kondisi dilapangan kurang diperhatikan oleh guru, bentuk-bentuk kegiatan bermainnya monoton. Hal tersebut membuat peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang Pengelolaan Pembelajaran melalui bermain pasir dan air pada Sentra bahan alam. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Subjek penelitian ini adalah kepala sekolah, guru, dan seluruh siswa kelompok B di Kelompok Bermain PAUD Insan Kamil Bangkinang Kampar. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi wawancara dan dokumentasi. Analisis data digunakan dengan reduksi data, penyajian data, verifikasi data dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian ini menunjukkan, pengelolaan pembelajaran melalui bermain pasir dan air yang dilaksanakan di PAUD Insan Kamil Bangkinang Kampar meliputi : Planing (Perencanaan) pembelajaran melalui bermain pasir dan air dilaksanakan dengan menyusun Monly Lesson Plan, Weekly Lesson Plan, dan Daily Lesson Plan, Actuating (Pelaksanaan) pembelajaran, dan Controling (Penilaian). Bentuk-bentuk kegiatan bermain pasir pada sentra bahan alam di PAUD Insan Kamil dibagi menjadi tiga jenis kegiatan bermain, yaitu : bermain pasir, bermain air, dan kolaborasi pasir dan air
161-168


