- Authors retain copyright and grant the journal right of first publication with the work simultaneously licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License that allows others to share the work with an acknowledgement of the works authorship and initial publication in this journal.
- Authors are able to enter into separate, additional contractual arrangements for the non-exclusive distribution of the journals published version of the work (e.g., post it to an institutional repository or publish it in a book), with an acknowledgement of its initial publication in this journal.
- Authors are permitted and encouraged to post their work online (e.g., in institutional repositories or on their website) prior to and during the submission process, as it can lead to productive exchanges, as well as earlier and greater citation of published work (See The Effect of Open Access).
Internalisasi Nilai Tri-Silas melalui Pembelajaran Tari Anak Berbasis Budaya Lokal
DOI:
https://doi.org/10.31004/obsesi.v5i2.1087Keywords:
tari anak internalisasi tri-silasAbstract
Pembelajaran tari anak yang berbasis pada kearifan lokal di sekolah sangat penting untuk meningkatkan pendidikan karakter dengan mengiinternalisasi nilai- nilai Tri-Silas (silih asah, silih asih, silih asuh) pada diri anak. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis efektifitas pembelajaran dan nilai-nilai Tri-Silas yang terdapat pada Tari Anak yang dijadikan sebagai bahan ajar di sekolah. Data kualitatif diperoleh dengan cara mengobservasi dari 52 siswa serta melakukan wawancara yang mendalam pada 1 orang guru mengenai pembelajaran tari anak yang berbasis pada budaya lokal sebagai data kualitatif. Data kuantitatif untuk mengetahui efektifitas pembelajaran dan dianalisis dengan menggunakan Uji statistik yang digunakan dalam penelitian ini adalah uji statistik non parametrik atas dasar Uji efektivitas menggunakan Uji Wilcoxon. Hasil penelitian ini adalah terinternalisasinya nilai-nilai Tri-Silas pada anak melalui pembelajaran tari anak dengan cara belajar secara kelompok, bergotong royong, bersemangat, jujur, ikhlas, saling membantu dan berempati. Mengenalkan tari anak pada siswa merupakan cara yang efektif dalam menginternalisasikan nilai-nilai Tri-Silas.
Downloads
References
Alif, M. Z., Sachari, A., & Sabana, S. (2015). Konsep Desain Venakular Dalam Bentuk pagawéan barudak di Baduy-Dalam. Panggung, 25(4), 391–404. https://doi.org/10.26742/panggung.v25i4.46
Biasutti, M. (2013). Improvisation in dance education: teacher views. Research in Dance Education, 14(2), 120–140. https://doi.org/10.1080/14647893.2012.761193
Carter, C. L. (2000). Improvisation in Dance. The Journal of Aesthetics and Art Criticism, 58(2), 181. https://doi.org/10.2307/432097
Danasasmita, S. (1987). Sanghyang Siksa Kandang Karesian.-Amanat Galunggung. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Davis, M. (2003). What’s Wrong with Character Education? American Journal of Education, 1(11), 32–57. https://doi.org/10.1086/377672
Djunatan, S. (2011). Silih Asah, Silih Asih, Silih Asuh: Inspirasi Budaya Lokal Untuk Gereja. Jurnal Studia Philosophica et Theologica, 11 No. 1(Maret), 115–127.
Giguere, M. (2006). Thinking as They Create: Do Children have Similar Experiences in Dance and in Language Arts? Journal of Dance Education, 6(2), 41–47. https://doi.org/10.1080/15290824.2006.10387311
Giguere, M. (2011). Dances for Children, with Children, and by Children: Looking at Recital Dance through a Lens of Children’s Culture. Journal of Dance Education, 11(3), 84–89. https://doi.org/10.1080/15290824.2011.564077
Gilbert, A. G. (2002). Creative Dance for All Ages (Second Edi). Champaign United States: Human Kinetics.
Hawkins, A. (2003). Moving form Within: A New Method for Dance Making. Bergerak Menurut Kata Hati. Terjemahan oleh I Wayan Dibya. Jakarta: MSPI.
Hawkins, A. M. (1965). Creating through dance. UCLA: Prentice-Hall.
Kartadinata, S. (2010). Mencari Bentuk Pendidikan Karakter Bangsa. Bandung: UPI Press.
Krakowiak, K. M., & Tsay-Vogel, M. (2013). What Makes Characters’ Bad Behaviors Acceptable? The Effects of Character Motivation and Outcome on Perceptions, Character Liking, and Moral Disengagement. Mass Communication and Society, 16(2), 179–199. https://doi.org/10.1080/15205436.2012.690926
Kuswarsantyo. (2012). Pelajaran Tari: Image dan Kontribusinya Terhadap Pembentukan Karakter Anak. JOGED Jurnal Seni Tari, 3(1), 17–23. https://doi.org/https://doi.org/10.15294/jst.v4i1.9642
Lavender, L. (1996). Dancers Talking Dance: Critical Evaluation in the Choreography Class. Human Kinetics.
Lavender, L. (2006). Creative Process Mentoring: Teaching the “Making” in Dance-Making. Journal of Dance Education, 6(1), 6–13. https://doi.org/10.1080/15290824.2006.10387306
Lindqvist, G. (2001). The Relationship between Play and Dance. Research in Dance Education, 2(1), 41–52. https://doi.org/10.1080/14647890120058302
Malarsih, & Herlinah. (2014). Creativity Education Model through Dance Creation for Students of Junior High School. Harmonia: Journal of Arts Research and Education, 14(2), 147. https://doi.org/10.15294/harmonia.v14i2.3296
Masunah, J. (2011). Konsep Dan Praktik Pendidikan Multikultural Di Amerika Serikat dan Indonesia. Jurnal Ilmu Pendidikan, vol 17.
McCutchen, B. P. (2006). Teaching Dance as Art in Education. Champaign. United Sates: Human Kinetics.
Novianti, N. (2017). Teaching character education to college students using bildungsromans. International Journal of Instruction, 10(4), 255–272. https://doi.org/10.12973/iji.2017.10415a
Noviati, P. R., & Giwangsa, S. F. (2018). Analisis Permainan Oray-Orayan Terhadap Aspek Perkembangan Anak Analysis of Orayan-Orayan Games on Children ’ S. JURNAL LENSA PENDAS, 3(September), 73–78.
Nurwansah, I. (2013). Naskah Lontar Sunda Kuna Sanghyang Siksa Kandang Karesian (624): Sebuah anomali pada pernaskahan Sunda Kuna. Jurnal Jumantara, 4(1). Retrieved from file:///C:/Users/Asus-User/Downloads/Naskah_Lontar_Sunda_Kuna_Sanghyang_Siksa.pdfnda Kuna
Rakimahwati. (2014). Character Development through Dance Learning in an Early Childhood Setting. Indonesian Journal of Early Childhood Education Studies, 3(2), 102–107. https://doi.org/10.15294/ijeces.v3i2.9490
Sudaryat, Y. (2016). Bahasa Sunda Dalam Gamitan Kearifan Lokal Dan Pendidikan. Retrieved from http://berita.upi.edu/11149/
Sunaryo, A. (2020a). Dasar-Dasar Koreografi (1st ed.). Bandung: UPI Press.
Sunaryo, A. (2020b). Pengembangan Model ENGKLE Berbasis Permainan Tradisi Untuk Meningkatkan Kompetensi Penciptaan Tari Anak. Sekolah Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia.
Sunaryo, A., Narawati, T., Masunah, J., & Nugraheni, T. (2020). Concept of Children’s Dance Composition Based Traditional Games in Elementary School. Jurnal Pendidikan Sekolah Dasar, 6(1).
Sundalana. (2006). Mencari Gerbang Pakuan dan Kajian Lainnya mengenai Budaya Sunda. Bandung: Pusat Studi Sunda.
Supriyanto, E. (2018). Ikat Kait Impulsif Sarira: Gagasan Yang Mewujud Era 1990-2010 (R. S. Wulan, Ed.). Yogyakarta: Garudhawaca.
Suryalaga, R. H. (2010). Kesundaan Rawayan Jati. Bandung: Yayasan Nur Hidayah.
Yani, A., & Jazariyah, J. (2020). Penyelenggaraan PAUD Berbasis Karakter Kebhinekaan sebagai Upaya Pencegahan Radikalisme Sejak Dini. Jurnal Obsesi : Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 5(1), 1. https://doi.org/10.31004/obsesi.v5i1.503


